- Candi Borobudur memiliki 1.460 relief yang menyimpan kisah kehidupan dan nilai-nilai kebajikan.
- 81 persen relief berhasil diidentifikasi, menciptakan 40 buku penelitian yang mendalam.
- Cerita Bodhisatwa dan Karmawibhangga memberikan pelajaran tentang perbuatan baik dan karma.
Bagi masyarakat Blitar yang ingin menjelajahi kekayaan spiritual dan budaya, Candi Borobudur hadir sebagai salah satu destinasi wisata religi yang tak boleh dilewatkan. Dikenal luas sebagai salah satu warisan dunia, candi megah ini menyimpan tidak kurang dari 1.460 relief naratif yang memiliki makna mendalam terkait dengan kehidupan, karma, dan nilai-nilai kebajikan. Setiap relief menceritakan kisah yang merefleksikan kehidupan masyarakat pada masa lampau, menjadikannya bukan sekadar objek seni, tetapi juga sumber pengetahuan sejarah dan spiritual.
Penelusuran terhadap relief-reliquef Candi Borobudur terus dilakukan untuk mengungkap cerita-cerita yang tersembunyi di balik struktur batu yang megah ini. Penelitian yang mendalam menunjukkan bahwa sekitar 81 persen panel relief berhasil diidentifikasi, dengan hasil yang mencakup 40 buku penelitian selama lebih dari enam tahun. Namun, masih ada sekitar 19 persen relief yang mengalami erosi, menyebabkan sebagian ceritanya tidak dapat terbaca. Hal ini menambah rasa penasaran bagi wisatawan untuk menggali lebih dalam tentang sejarah dan makna yang tersimpan dalam setiap penggambaran.
Salah satu relief yang menarik perhatian adalah Karmawibhangga, yang menyoroti hubungan antara perbuatan dan akibatnya. Dalam panel ini, pengunjung dapat melihat contoh perbuatan baik yang berujung pada hasil yang positif, seperti menolong orang sakit dan memberikan makanan. Pesan yang disampaikan melalui relief ini sangat relevan, mengajak wisatawan untuk merenungkan bagaimana masyarakat masa lalu memaknai kehidupan dan pentingnya berbuat baik.
Selain itu, ada pula narasi menarik mengenai Bodhisatwa, salah satunya yang dapat dilihat dalam kisah Saraba Jataka. Dalam kisah ini, Bodhisatwa digambarkan sebagai seekor rusa yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan dengan kebaikan. Cerita ini menandakan betapa pentingnya nilai ketulusan dan cinta kasih tanpa pamrih, makna yang dapat diambil dan diterapkan oleh setiap pengunjung yang datang ke Candi Borobudur. Dengan demikian, Candi Borobudur bukan hanya tempat wisata, tetapi juga wadah pendidikan yang kaya akan nilai-nilai spiritual dan kebudayaan yang perlu diapresiasi oleh masyarakat, termasuk masyarakat Blitar.