- Dadiah adalah kuliner tradisional Minangkabau yang terbuat dari susu kerbau segar.
- Proses fermentasi dilakukan secara alami di dalam ruas bambu selama 1-2 hari.
- Teknik pembuatan Dadiah tidak menggunakan starter, menjadikannya unik dan khas.
Dadiah, kuliner tradisional yang berasal dari Sumatera Barat, semakin dikenal luas, tidak hanya di kawasan Luhak Nan Tigo, tetapi juga di berbagai daerah lainnya, termasuk Blitar. Makanan khas masyarakat Minangkabau ini memiliki cara pengolahan yang sederhana namun unik, yaitu dengan memanfaatkan susu kerbau segar yang difermentasi secara alami di dalam ruas bambu. Teknik pembuatan yang diwariskan secara turun-temurun ini menjadi salah satu kekayaan budaya yang patut dilestarikan dan diapresiasi.
Proses pembuatan Dadiah dimulai dengan pengambilan susu kerbau yang baru diperah dan masih segar. Sebelum difermentasi, susu tersebut disaring untuk memastikan bahwa tidak ada kotoran yang tersisa. Tahap selanjutnya, susu dimasukkan ke dalam ruas bambu yang berfungsi sebagai wadah alami. Proses fermentasi yang terjadi dalam bambu ini berlangsung antara satu hingga dua hari, di mana susu mengalami perubahan tekstur dan rasa.
Selama proses fermentasi, susu kerbau tersebut menjadi lebih padat dan cita rasanya berubah menjadi asam yang khas. Keunikan Dadiah terletak pada teknik fermentasinya yang alami tanpa menggunakan starter, berbeda jauh dari proses pembuatan yogurt yang umum dikenal. Semakin lama Dadiah disimpan dalam ruas bambu, semakin kuat pula rasa asam yang dihasilkan, menambah daya tarik bagi para pecinta kuliner.
Dengan demikian, Dadiah bukan hanya sekedar makanan, tetapi juga mencerminkan kekayaan dan kearifan lokal yang menjunjung tinggi tradisi. Di tengah banyaknya makanan modern, keberadaan Dadiah sebagai salah satu warisan budaya patut mendapatkan perhatian khusus agar tidak terlupakan, serta bisa dinikmati oleh generasi mendatang. Bagi masyarakat Blitar yang gemar mengeksplorasi kuliner, Dadiah adalah salah satu pilihan menarik yang layak dicoba.