Sabtu, 26 September 2026
SB
SuaraBlitar
Portal Berita Terkini Blitar, Wisata, Kuliner, Hukum, dan Informasi Publik seputar Blitar.
Beranda › Pemerintahan › Soekarno: Pergolakan Politik dan Titik Balik Sejarah Indonesia

Soekarno: Pergolakan Politik dan Titik Balik Sejarah Indonesia

Soekarno: Pergolakan Politik dan Titik Balik Sejarah Indonesia
Poin Penting:
  • Soekarno menghadapi serangkaian tantangan politik dan ekonomi pada pertengahan 1960-an.
  • Penerapan kebijakan luar negeri yang agresif menjadi salah satu penyebab ketegangan internasional.
  • Keputusan MPRS pada tahun 1967 menandai transisi penting dari Demokrasi Terpimpin ke Orde Baru.

Di tengah perubahan besar yang mengguncang Indonesia pada pertengahan 1960-an, Soekarno, sebagai presiden pertama Republik Indonesia, menghadapi tantangan politik yang luar biasa yang akhirnya berujung pada berakhirnya masa kepemimpinannya. Rentetan peristiwa yang dimulai dengan Gerakan 30 September (G30S) pada tahun 1965, diikuti oleh krisis ekonomi, demonstrasi mahasiswa, hingga terbitnya Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar), mengubah arah sejarah bangsa. Pada 12 Maret 1967, MPRS memutuskan untuk mencabut kekuasaan Soekarno dan menyerahkan posisi kepresidenan kepada Soeharto, menandai transisi kekuasaan dari Era Demokrasi Terpimpin menuju Orde Baru.

Video yang diunggah oleh kanal YouTube Matahatipemuda berjudul “HANCURNYA KEKAISARAN SUKARNO | Prahara G30S & Kudeta Eps. 4” menawarkan wawasan mendalam mengenai dinamika politik baik di dalam negeri maupun luar negeri selama periode turbulen tersebut. Dalam tayangan ini, penonton dapat melihat bagaimana pergeseran kekuasaan yang dramatis ini berakar pada kebijakan luar negeri Soekarno yang berani menentang kolonialisme serta upayanya membentuk aliansi negara-negara baru di Asia dan Afrika, terutama saat Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955.

Di tengah ketegangan luar negeri dan otomatisasi politik yang semakin runcing, Soekarno juga menerapkan gagasan Nasakom, yaitu think tank yang mencoba mengakomodasi kekuatan nasionalis, agama, dan komunis dalam satu wadah demokrasi. Namun, kebijakan-kebijakan tersebut tidak dapat menghindarkan Indonesia dari krisis ekonomi yang parah pada tahun 1965-1966, yang ditandai oleh inflasi tinggi dan ketidakpuasan masyarakat. Ketegangan yang mencekam antara Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Angkatan Darat menciptakan iklim politik yang rawan, mengarah pada peristiwa kelam penculikan dan pembunuhan yang dikenal sebagai G30S, yang akan menjadi titik awal transformasi besar dalam lanskap politik nasional Indonesia.