- Gunung Anak Krakatau statusnya naik menjadi Level III (Siaga) setelah 26 kali erupsi dalam sepekan.
- Masyarakat diminta menjauhi kawasan berbahaya dalam radius 5 kilometer dari puncak gunung.
- Tremor terus menerus dan suplai magma terdeteksi, meskipun tidak ada erupsi susulan sejak 9 Oktober.
Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda, Banten, kini menarik perhatian masyarakat setelah status aktivitasnya meningkat dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Peningkatan status ini menyusul serangkaian erupsi yang terjadi dalam sepekan terakhir, termasuk 26 kali erupsi bertipe strombolian yang tercatat pada hari Jumat lalu. Meski saat ini pengamatan visual menunjukkan hanya ada asap putih yang keluar dari kawah, tremor terus menerus masih terdeteksi, menandakan suplai magma yang masih berlangsung di dalam gunung api ini.
Petugas pos pengamatan Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, secara intensif memonitor perkembangan aktivitas vulkanik dengan menggunakan beragam parameter, seperti kegempaan dan deformasi. Upaya ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang jelas tentang kondisi gunung api yang berlokasi di perairan Selat Sunda. Dalam grafik aktivitas yang direkam, terpantau adanya peningkatan pada beberapa parameter, yang membuat masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar kawasan berpotensi terdampak, diminta untuk menjauhi area berbahaya hingga radius 5 kilometer dari puncak.
Erupsi strombolian adalah tipe letusan yang berlangsung secara berkala, sehingga untuk memastikan keselamatan warga, penting bagi petugas untuk terus memantau. Dalam pengamatan terbaru, asap yang keluar dari kawah terlihat berwarna putih dengan ketinggian mencapai 20 hingga 100 meter dari puncak. Meskipun tampak lebih tenang, potensi bahaya masih ada, dan kemungkinan terjadinya erupsi susulan tidak dapat diabaikan.
Erupsi terakhir dari Gunung Anak Krakatau terjadi pada tanggal 9 Oktober pukul 21.20 WIB, dan hingga saat ini, belum ada erupsi susulan yang terdeteksi. Dengan segala potensi yang ada, diharapkan masyarakat tetap waspada dan mengikuti informasi dari pihak berwenang mengenai status dan perkembangan kegiatan vulkanik di daerah tersebut.