- Badan Gizi Nasional menegur SPPG Batang terkait dugaan keracunan makanan pada program MBG.
- Pengolahan makanan yang tidak sesuai prosedur dapat berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.
- Jumlah korban keracunan makanan di Kabupaten Batang terus meningkat, mencapai hampir 500 orang.
Badan Gizi Nasional (BGN) baru-baru ini memberikan teguran kepada pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Hal ini terjadi menyusul laporan mengenai dugaan keracunan makanan yang melibatkan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di daerah tersebut. Teguran ini disampaikan oleh Trenggono, Wakil Kepala BGN, yang menyoroti adanya kelalaian dalam prosedur keamanan pangan yang seharusnya diikuti selama proses pengolahan makanan.
Trenggono menjelaskan bahwa salah satu masalah yang ditemukan adalah pengolahan telur yang dilakukan malam hari, sementara tahapan selanjutnya baru dilaksanakan pada pagi harinya. Ia menekankan pentingnya pengawasan yang ketat sepanjang proses, mulai dari pengolahan, distribusi, hingga konsumsi makanan oleh penerima manfaat. Menurutnya, semua pihak, termasuk pemerintah daerah, bupati, serta aparat TNI dan Polri, memiliki kewenangan untuk melakukan pengawasan dalam program ini demi memastikan keamanan pangan untuk masyarakat.
Lebih jauh, perlu dicatat bahwa penerima manfaat program MBG dilarang untuk membawa pulang makanan yang telah disediakan. Hal ini berkaitan dengan batas waktu konsumsi yang mengharuskan setiap makanan yang telah diolah untuk tidak disimpan atau didistribusikan kembali pasca batas aman. Mengingat situasi yang berkembang, jumlah siswa dan wali murid yang diduga mengalami keracunan setelah mengkonsumsi makanan program MBG di Kabupaten Batang terus meningkat.
Hingga tanggal 25 September 2026, tercatat 498 orang telah menjalani pemeriksaan. Suyono, Wakil Bupati sekaligus Ketua Satgas MBG Batang, mengungkapkan bahwa 159 di antaranya dirujuk ke sejumlah fasilitas kesehatan, sedangkan 319 menjalani rawat jalan. Selain itu, 20 orang masih memerlukan perawatan inap di Puskesmas. Kejadian ini menjadi perhatian yang sangat serius bagi semua pihak yang terlibat dalam program MBG, terutama dalam memastikan bahwa setiap langkah yang diambil menjamin kesehatan dan keselamatan penerima manfaat di Kabupaten Batang.