- Acara harlah Majelis Pengajian Sabilu Taubah menampilkan biduan yang memicu hujatan di media sosial.
- Kritik dari berbagai tokoh agama dan ulama yang menilai penampilan tersebut tidak etis dalam konteks pengajian.
- Pentingnya dialog dan refleksi dalam masyarakat Blitar mengenai nilai dan tradisi keagamaan.
Acara peringatan hari lahir (harlah) Majelis Pengajian Sabilu Taubah yang dipimpin oleh Gus Iqdam kembali menjadi sorotan publik setelah menampilkan biduan di atas panggung. Momen tersebut, yang berlangsung dari tanggal 3 hingga 7 September 2026, semakin viral setelah video penampilan seorang biduan yang mengenakan celana berkerudung putih menjadi bahan pembicaraan luas di media sosial. Kejadian ini memunculkan berbagai reaksi, khususnya di kalangan ulama dan tokoh agama, yang mengungkapkan keprihatinan terhadap ketidakcocokan penampilan tersebut dengan nilai-nilai pengajian yang seharusnya diusung.
Dalam video tersebut, biduan yang turut menggoyangkan tubuhnya dan menyanyi dalam rangka membuka pertunjukan grup musik Wali Band diperbincangkan dengan tajam, terutama oleh mereka yang mengutamakan kemurnian dalam acara-acara keagamaan. Beberapa pihak merasa bahwa kehadiran penyanyi di acara yang memiliki latar belakang keagamaan tersebut menunjukkan tanda-tanda pergeseran nilai dan budaya yang dapat membingungkan masyarakat, khususnya generasi muda. Surat terbuka di media sosial dari akun @ajir_ubaidillah memuat ungkapan cuplikan kekecewaan yang datang dari mereka yang sangat menghormati pengorbanan para kyai.
Sementara itu, Plt Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Blitar, M. Ahmad Zamroni, juga memberikan pendapatnya mengenai acara ini. Ia mengaku belum sepenuhnya melihat video tersebut, namun menyatakan bahwa penampilan penyanyi tersebut dinilai kurang sesuai dengan suasana dan tujuan dari sebuah acara peringatan yang menekankan nilai-nilai pengajaran agama. Tindakan ini menjadi sinyal adanya kebutuhan untuk lebih memperhatikan aspek-aspek budaya yang relevan di dalam setiap acara keagamaan di masa mendatang.
Kontroversi ini bukanlah yang pertama bagi Gus Iqdam, yang sebelumnya juga pernah tersorot karena penggunaan musik disko dalam acara pengajiannya. Dengan demikian, fenomena ini menjadi catatan penting bagi masyarakat Blitar untuk bersama-sama berrefleksi tentang norma-norma yang selama ini mereka pegang dan bagaimana menyesuaikannya dengan perkembangan zaman, tanpa mengorbankan prinsip dan nilai-nilai keagamaan yang telah diwariskan.