Kamis, 15 Oktober 2026
SB
SuaraBlitar
Portal Berita Terkini Blitar, Wisata, Kuliner, Hukum, dan Informasi Publik seputar Blitar.
Beranda › Umum › Meningkatnya Antrean Cuci Darah di RSUD Mardi Waluyo Blitar: Tantangan dan Solusi

Meningkatnya Antrean Cuci Darah di RSUD Mardi Waluyo Blitar: Tantangan dan Solusi

Meningkatnya Antrean Cuci Darah di RSUD Mardi Waluyo Blitar: Tantangan dan Solusi
Poin Penting:
  • Antrean pasien cuci darah di RSUD Mardi Waluyo mencapai 272 orang, hanya 29 mesin yang aktif.
  • Jumlah pasien hemodialisis terus meningkat, mempengaruhi kapasitas pelayanan rumah sakit.
  • RSUD Mardi Waluyo juga melayani pasien dari luar daerah, meningkatkan tantangan manajemen antrean.

Antrean pasien untuk cuci darah di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar terus mengalami lonjakan, dengan total mencapai 272 pasien dalam daftar tunggu. Kondisi ini memperlihatkan betapa tingginya kebutuhan masyarakat akan layanan hemodialisis, yang sayangnya tidak sebanding dengan kapasitas fasilitas yang ada. Dari 32 mesin cuci darah yang dimiliki oleh rumah sakit, hanya 29 unit yang saat ini beroperasi untuk melayani kebutuhan pasien. Keputusan untuk tidak mengoperasikan tiga mesin hemodialisis disebabkan oleh alokasi sebagai mesin cadangan, menjadikan tantangan bagi manajemen rumah sakit dalam memberikan pelayanan yang optimal kepada pasien, terutama dalam menangani pasien gagal ginjal.

Bernard Theodore Ratulangi, Plt. Direktur Utama RSUD Mardi Waluyo, menyatakan bahwa peningkatan jumlah pasien cuci darah merupakan masalah yang semakin kompleks. Pada tahun 2025, terdapat sekitar 132 hingga 135 pasien yang menjalani terapi hemodialisis secara rutin, sementara angka tersebut meloncat menjadi 141 pasien pada tahun 2026. Meskipun kapasitas layanan hemodialisis berkisar 140 hingga 145 pasien, jumlah pasien yang terus meningkat ini membuat rumah sakit harus cermat dalam mengatur jadwal pelayanan agar semua pasien mendapatkan kesempatan yang adil untuk menerima terapi.

Tak hanya itu, dari total 272 pasien yang mencatatkan diri di daftar antrean, hanya 29 di antaranya yang merupakan warga Kota Blitar. Sementara itu, 243 lainnya berasal dari luar daerah, menunjukkan bahwa RSUD Mardi Waluyo juga menjadi andalan bagi banyak pasien dari daerah sekitar. Dalam konteks ini, rumah sakit diharapkan tidak hanya meningkatkan fasilitas dan jumlah mesin, tetapi juga mengoptimalkan sistem manajemen antrean untuk menjaga mutu pelayanan bagi seluruh pasien. Upaya kolaboratif antara manajemen rumah sakit dan pemerintah daerah menjadi sangat penting dalam menjawab tantangan ini, sehingga pelayanan kesehatan bagi masyarakat tetap terjaga.

Dengan permintaan yang terus naik, RSUD Mardi Waluyo dihadapkan pada kebutuhan akan inovasi dalam pengelolaan fasilitas kesehatan dan pengembangan sumber daya manusia. Diharapkan, solusi yang diambil tidak hanya akan memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga mampu memberikan pelayanan yang berkelanjutan di masa mendatang, sekaligus menjadi referensi dalam pengembangan layanan kesehatan di wilayah lain.